A. TEKNIK TERAPI MENURUTALIRAN PSIKOANALISA
Teknik ini merupakan sebuah teknik yang intensif dan berdurasi panjang (baca: lama), dimana tujuannya hendak mengungkap motif-motif dan konflik alam bawah sadar pada individu yang neurotik dan mengalami kecemasan (individu yang memiliki gangguan, bukan pada individu “normal”). Freud melihat bahwa suatu gangguan disebabkan oleh konflik antara id dan superego, serta kurangnya integrasi ego dalam diri individu. Akibatnya, individu pun melakukan represi, yang turut pula memicu suatu mekanisme pertahanan diri. Tugas para psikoanalis adalah untuk menolong pasien memperoleh keseimbangan intrapsikis yang memperluas wilayah kesadaran pasien akan dorongan id, mengurangi konflik yang muncul akibat tekanan superego, dan memperkuat fungsi ego.
Adanya penekanan akan aspek masa lalu yang dianggap memiliki pengaruh signifikan akan permasalahan individu, maka para psikoanalis pun berusaha membawa pasien pada kesadaran akan gejala yang timbul di masa sekarang dengan konflik di masa lalu. Hal ini lah yang kemudian populer dengan sebutan terapi insight, karena adanya usaha untuk mengarahkan pasien menemukan insight akan hubungan tersebut.
Teknik-teknik terapi dalam psikoanalisa yang digunakan adalah:
1. Asosiasi bebas & katarsis
Pasien diminta untuk mengatakan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya, seperti pikiran, harapan, dll, walaupun kelihatannya hal-hal tersebut tidak penting, tidak logis, menyakitkan atau pun menggelikan. Freud memperkirakan bahwa asosiasi bebas ini ditentukan oleh suatu sebab, bukan hal yang acak. Tugas si analis-lah untuk melacak asosiasi ini sampai ke sumbernya dan mengidentifikasi suatu pola sebenarnya yang tadinya hanya terlihat sebagai rangkaian kata yang tidak pasti. Terlepasnya emosi yang kuat, yang selama ini ditekan pada situasi teraputik ini pun kemudian disebut sebagai katarsis.
2. Resistensi
Adalah penolakan pasien untuk melanjutkan situasi terapeutik karena ketidakmampuan atau ketidakrelaan untuk mendiskusikan tentang ide-ide tertentu, keinginan, atau sebuah pengalaman. Hal ini dapat menunjukkan adanya konflik dalam diri klien, yang dapat mengarahkan pada akar permasalahan.
3. Analisis mimpi
Psikoanalisis mempercayai bahwa mimpi adalah sumber informasi yang penting tentang motif-motif ketidaksadaran. Mimpi merupakan suatu bentuk ekspresi akan penekanan konflik yang menyakitkan ke alam bawah sadar. Oleh karena itu mimpi pasien dapat menjadi petunjuk penting akan permasalahannya. Mimpi pasien dipandang sebagai simbol-simbol yang merepresentasikan permasalahan dirinya. Analisa terhadap mimpi ini biasanya akan dilandasi oleh konsep psikoseksual, serta termuat isu gender. Contohnya adalah mimpi mengenai sebuah pohon dapat diinterpretasikan sebagai keinginan untuk mengekspresikan dorongan seksual apabila dimimpikan oleh laki-laki, atau representasi dari keinginan untuk memiliki superioritas laki-laki bila dimimpikan oleh perempuan. Dalam hal ini, pohon dipandang sebagai representasi dari alat kelamin laki-laki.
4. Transference and Countertransference
Transference adalah saat si pasien mengembangkan reaksi emosional ke terapis. Hal ini bisa saja dikarenakan pasien mengidentifikasi terapis sebagai seseorang di masa lalunya, misalnya orang tua atau kekasih. Disebut positive transference apabila perasaan itu adalah perasaan sayang dan kekaguman, serta negative transference apabila perasaan ini mengandung permusuhan atau kecemburuan.
Countertransference adalah saat ketika terapis menjadi suka atau tidak suka kepada pasien karena pasien tersebut mirip dengan seseorang di kehidupannya. Hal ini penting untuk disadari terapis karena dapat mempengaruhi efektivitas terapi.
B. TEKNIK TERAPI MENURUT ALIRAN HUMANISTIK
Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan konseling dan terapi, salah satunya yang sangat populer adalah dari Carl Rogers dengan client-centered therapy, yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment atau pemberian bantuan kepada klien.
Selain memberikan sumbangannya terhadap konseling dan terapi, psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik ini.
Sabtu, 31 Maret 2012
Senin, 19 Maret 2012
PSIKOTERAPI
• Pengertian:
Psikoterapi berasal dari kata, Psyche : mind / jiwa Therapy : merawat, mengobati, menyembuhkan.
Psikoterapi merupakan salah satu bentuk terapi yang terandalkan dalam tatalaksana pasien psikiatri disamping psikofarmaka dan terapi fisik. Sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari, prinsip-prinsip dan beberapa kaidah yang ada dalam psikoterapi ternyata juga digunakan, antara lain dalam konseling, pendidikan dan pengajaran, atau pun pemasaran.
• Ciri Psikoterapi :
1. Proses : Interaksi 2 pihak, formal, profesional, legal, etis
2. Tujuan : Perubahan kondisi psikologis individu - pribadi yang positif / optimal (afektif, kognitif, perilaku/kebiasaan)
3. Tindakan, berdasar :
- ilmu (teori2), teknik, skill yang formal
- assessment (data yang diperoleh melalui proses assessment – wawancara, observasi, tes, dsb)
• Tujuan terapi (Korchin) :
1. memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar
2. mengurangi tekanan emosional
3. mengembangkan potensi klien
4. mengubah kebiasaan
5. memodifikasi struktur kognisi
6. memperoleh pengetahuan tentang diri
7. mengembangkan kemampuan berkomunikasi & hubungan interpersonal
8. meningkatkan kemampuan mengambil keputusan
9. mengubah kondisi fisik
10. mengubah kesadaran diri
• Sejarah Psikoterapi :
Psikoterapi berawal dari upaya menyembuhkan pasien yang menderita penyakit jiwa
Berabad-abad yang lalu
orientasi mistik - upaya mengusir roh jahat dengan cara tidak manusiawi (mengisolasi, mengikat, memasung, memukul)
1. Philipe Pinel
Melakukan pendekatan bersifat manusiawi, yang berorientasi kasih sayang (love oriented approach) - mendirikan asylum
2. Anton Mesmer
Mempergunakan teknik hypnosis & sugesti, teknik hypnosis kemudian digunakan oleh Jean Martin Charcot
3. Paul Dubois
Merumuskan & menekankan peranan penting teknik berbicara (speech technique, talking cure) yang digunakan kepada pasien. Paul Dubois tercatat sebagai “The First Psychotherapiest”
4. Joseph Breuer (senior dari Sigmund Freud) & Sigmund Freud
Menggunakan teknik hypnosis & teknik berbicara dalam upaya menyembuhkan pasien2 histeria
Pada Breuer talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan hypnosis
5. Pada Sigmund Freud talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan sadar ( cikal bakal lahirnya psikoanalisis).
Psikoterapi berasal dari kata, Psyche : mind / jiwa Therapy : merawat, mengobati, menyembuhkan.
Psikoterapi merupakan salah satu bentuk terapi yang terandalkan dalam tatalaksana pasien psikiatri disamping psikofarmaka dan terapi fisik. Sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari, prinsip-prinsip dan beberapa kaidah yang ada dalam psikoterapi ternyata juga digunakan, antara lain dalam konseling, pendidikan dan pengajaran, atau pun pemasaran.
• Ciri Psikoterapi :
1. Proses : Interaksi 2 pihak, formal, profesional, legal, etis
2. Tujuan : Perubahan kondisi psikologis individu - pribadi yang positif / optimal (afektif, kognitif, perilaku/kebiasaan)
3. Tindakan, berdasar :
- ilmu (teori2), teknik, skill yang formal
- assessment (data yang diperoleh melalui proses assessment – wawancara, observasi, tes, dsb)
• Tujuan terapi (Korchin) :
1. memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar
2. mengurangi tekanan emosional
3. mengembangkan potensi klien
4. mengubah kebiasaan
5. memodifikasi struktur kognisi
6. memperoleh pengetahuan tentang diri
7. mengembangkan kemampuan berkomunikasi & hubungan interpersonal
8. meningkatkan kemampuan mengambil keputusan
9. mengubah kondisi fisik
10. mengubah kesadaran diri
• Sejarah Psikoterapi :
Psikoterapi berawal dari upaya menyembuhkan pasien yang menderita penyakit jiwa
Berabad-abad yang lalu
orientasi mistik - upaya mengusir roh jahat dengan cara tidak manusiawi (mengisolasi, mengikat, memasung, memukul)
1. Philipe Pinel
Melakukan pendekatan bersifat manusiawi, yang berorientasi kasih sayang (love oriented approach) - mendirikan asylum
2. Anton Mesmer
Mempergunakan teknik hypnosis & sugesti, teknik hypnosis kemudian digunakan oleh Jean Martin Charcot
3. Paul Dubois
Merumuskan & menekankan peranan penting teknik berbicara (speech technique, talking cure) yang digunakan kepada pasien. Paul Dubois tercatat sebagai “The First Psychotherapiest”
4. Joseph Breuer (senior dari Sigmund Freud) & Sigmund Freud
Menggunakan teknik hypnosis & teknik berbicara dalam upaya menyembuhkan pasien2 histeria
Pada Breuer talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan hypnosis
5. Pada Sigmund Freud talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan sadar ( cikal bakal lahirnya psikoanalisis).
Rabu, 28 Desember 2011
Salah Satu Makanan Khas Betawi
SEJARAH BETAWI
Menurut bahasa, kata BETAWI berasal dari kata BATAVIA yang dinisbahkan dengan gaya bahasa Arab yang artinya “berasal dari Batavia”. Seperti JAWI, BANJARI, BANTANI, dst. Yang dinisbahkan dari kata JAVA, BANJAR (MASIN), BANTEN, dst. Yang berarti berasal dari tanah Jawa, Banjarmasin, Banten, dst. Batavia sendiri adalah nama sebuah kota baru, yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Belanda, Jan Pieterzon Coen pada tahun 1619 M, setelah membumi-hanguskan kota lama sebelumnya yaitu kota Jayakarta milik keturunan kerajaan Cirebon dan Banten, yang letaknya di sekitar Jalan Kalibesar, tempat di mana sekarang berdiri sebuah hotel megah bernama Omni Batavia.
Lalu, apakah dengan begitu berarti sejarah Betawi dimulai sejak zaman Pieter Zoen Coen sampai sekarang, atau lebih awal lagi. Para pakar sejarah dan antropologi menyebutkan bahwa Betawi sebagai komunitas yang berperadaban sudah ada jauh sebelum Peiterzon Coen datang. Kata Batavia yang dibuat oleh Pieterzon Coen hanya mengacu pada konsep administrasi pemerintahan dan geografis semata, tidak mengacu pada konsep budaya dan antropologi. Ada pula yang memulai sejarah Betawi dari kedatangan tentara Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah yang menghancurkan vazal Kerajaan Pajajaran di Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527 yang ditandai dengan berdirinya Kerajaan Jayakarta. Bahkan ada pula yang memulai sejarah Betawi sejak zaman Tarumanegara di abad ke-5 M.
Meski penelitian tentang apa dan siapa Betawi, serta sejak kapan memulai sejarah Betawi, belum tuntas diteliti, tapi boleh dibilang bahwa yang disebut Orang Betawi adalah mereka yang;
1. Secara genetik dilahirkan oleh kakek nenek yang aseli Jakarta (sebagian menekankan tiga turunan ke atas yaitu bapaknya, engkongnya, dan uyutnya / kumpinya adalah orang yang dilahirkan di tanah Jakarta).
2. Mereka bermukim di bilangan Kota Jakarta dan pinggiran Tangerang, Bekasi dan Bogor (Jabotabek)
3. Mengakui dengan sadar bahwa dirinya adalah orang betawi.
4. Secara Budaya mereka:
a. Berbahasa Melayu dengan dialek khas Betawi yang kita kenal.
b. Bermain atau mencintai musik jenis keroncong, gambang keromong, qosidahan, orkes gambus, dll.
c. Berbusana sadariah dan kebaya, atau kopiah haji dan baju koko, serta senang serebetan. Kalau kaum perempuannya senang pakai kerudung dan baju kurung (atau secara unum kita sebut busana muslimah) dll. Kalau acara resmi biasa pakai jas ujung serong dan berbusana khusus kalau menjadi penganten.
d. Beragama Islam dan sering mengadakan tahlilan serta ratiban / ngerasul / muludan, senang pergi haji. Wiridan serta tadarusan al-qur‟an ba‟da subuh dan maghrib, dst.
e. Mempunyai dan menyukai makanan khas seperti nasi uduk, semur jengkol, pecak lele, sayur asem, soto santen, gado-gado, sambel goang, semur daging kerbau, dll. Panganannya antara lain; kue dongkal, kue apem, kue pepe, kue gemblong, kue cucur, kue dadar, kue unti, tape-uli, dodol, kue satu, biji ketapang, manisan kolang-kaling, manisan sentul, dll. Minuman ringan mereka antara lain cendol, selendang mayang, kupi, teh tubruk, bir pletok, dll.
f. Beradat-istiadat yang umumnya dikenal sebagai adat betawi, misalnya cium tangan bila bertemu orang yang lebih tua, memanggil engkong dan nyai kepada kakek dan nenek. Encing dan encang kepada adik dan kakaknya orang tua, memanggil abang dan empo, untuk menyebut saudara kandung yang lebih tua, dan entong serta enok untuk memanggil anak kecil laki-laki dan perempuan, dll.
g. Bentuk rumah mereka biasanya joglo, atau bapang, gudang. Ada bale, pendaringan, pangkeng. Terasnya luas, pada bagian tertentu dari rumah ada ukiran kayu jenis gigi binatang.
h. Mereka juga mempunyai permainan anak-anak, seperti: bekel, congklak, dampu, petak gunung, gala asin, getok kadal, tamplak, dll.
i. Memiliki kemampuan bela diri silat Beksi, Cingkrig, Gedigan, dll.
Demikian gambaran sekilas tentang orang Betawi. Jika ada yang mengaku orang Betawi diluar batasan diatas, buat orang Betawi, tidak jadi masalah.
JENIS MAKANAN DAN MINUMAN KHAS BETAWI
A. Makanan menyenangkan:
1. Laksa : ketupat, sayur, sate manis, kerupuk dan sambal
2. Soto Betawi : ketupat, soto babat, gorengan, emping, dan acar
3. Bebanci : ketupat, sayur, sate buntil, kerupuk dan sambal
4. Sambal/ Sayur Godok : ketupat, sayur, semur, kerupuk merah
5. Sayur Tangkar : ketupat, sayur, emping sate lembut, dan sambal
6. Nasi Ulam
7. Gado-gado (ulek kuah)
8. Asinan
9. Toge Goreng
B. Makanan Pendamping:
1. Ayam Bekana
2. Sate Pentul / Sate Asam
3. Sate Tahu
4. Laksa Pengantin
5. Sayur Asam
6. Bebanci
C. Makanan Kecil / Kue :
1. Kerak Telor
2. Kranteng
3. Kue Talam
4. Kue Pepe
5. Kue Jongkong
6. Kue Kalabikang
7. Kue Ongol-ongol
8. Kue Putu
9. Kue Mangkok
10. Kue Lumpur Sorge
11. Kue Cante Manis
12. Roti Buaya
D. Minuman :
1. Sekoteng
2. Bir Peletok
3. Es Kocok
4. Es Kuda
Pada pembahasan ini, kami mengambil fenomena yang terjadi pada masyarakat betawi dari segi makanan tradisionilnya. Berdasarkan hasil wawancara yang kami peroleh dari subjek mengenai makanan khas betawi adalah sebagai berikut:
• Interviewer : mmm...jadi ondel-ondel kegunaannya seperti itu yah pak. Kalau hubungannya dengan roti buaya itu apa yah pak?
• Interviewee : sebenarnya buaya itu kan hewan yang menikah hanya dengan satu pasangan saja, yah biasa kita tahu itu setia pada pasangan lah. Makanya, masyarakat Betawi itu percaya kalau simbol buaya yang terdapat pada roti buaya itu akan membawa setiap pasangan yang baru menikah untuk menjadi pasangan yang bisa terus bersama sampai kakek-nenek nantinya. Maka dari itu, masyarakat asli Betawi menggunakan roti buaya sebagai seserahan untuk calon mempelai wanitanya tersebut.
• Interviewer : wah..berarti itu sangat berpengruh sekali yah pak untuk acara pernikahan?
• Interviewee : iya mba. Sangat berpengaruh. Karena, itu adalah salah satu seserahan yang wajib diberikan saat berlangsungnya pernikahan.
Dari hasil wawancara tersebut, berdasar kategori jenis makanan khas Betawi di atas, roti buaya merupakan salah satu makanan kecil atau kue-kuean khas Betawi. Dan eperti di jabarkan dalam hasil wawancara tersebut, bahwa roti buaya di gunakan sebagai hantaran pernikahan karena ia memiliki falsafah hidup yang bermakna kesetiaan kekasih terhadap pasangannya. Karena itulah roti buaya menjadi makanan tradisi yang sangat pengting atau berpengaruh dalam sebuah acara pernikahan.
Selasa, 04 Oktober 2011
Kebudayaan Indis
BAB I
Awal Kehadiran Orang Belanda
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut.
Menurut Segall, Dasen dan Poortinga, psikologi lintas-budaya adalah kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Definisi ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok: keragaman perilaku manusia di dunia dan kaitan antara perilaku terjadi. Definisi ini relatif sederhana dan memunculkan banyak persoalan. Sejumlah definisi lain mengungkapkan beberapa segi baru dan menekankan beberapa kompleksitas: 1. Riset lintas-budaya dalam psikologi adalah perbandingan sistematik dan eksplisit antara variabel psikologis di bawah kondisi-kondisi perbedaan budaya dengan maksud mengkhususkan antesede-anteseden dan proses-proses yang memerantarai kemunculan perbedaan perilaku.
Tujuan Psikologi Lintas Budaya adalah untuk lebih mengenal tentang ragam budaya yang tersebar di seluruh Indonesia dan diluar Indonesia, sehingga mahasiswa dapat menjelaskan apakah itu maksud dari Psikologi Lintas Budaya.
Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan disiplin ilmu-ilmu lainnya dapat dibedakan dengan psikologi indigenous, psikologi budaya, dan antropologi. Psikologi Indigenous untuk mengenal tingkah laku asli dari masyarakat Indonesia maupun masyarakat luar yang menetap di Indonesia. Indigenisasi itu sendiri mempunyai arti yaitu, proses pencampuran dari psikologi luar dengan psikologi setempat. Berarti hubungan psikologi lintas budaya dengan psikologi indigenous adalah untuk lebih mengenal tingkah laku masyarakat asli di Indonesia. Hubungan psikologi lintas budaya dengan psikologi budaya adalah untuk menambah ragam budaya yang ada di Indonesia. Hubungan psikologi lintas dengan antropologi adalah untuk mengetahui tentan adat istiadat yang ada di Indonesia.
BAB II
Masyarakat Pendukung Kebudayaan Indis
• Konteks sosial
Masyarakat kolonial di hindia belanda memiliki struktur yang bersifat semi feodal. Mereka mengalami modernisasi karena masyarakatnya tumbuh sejalan dengan perkembangan sistem produksi dan teknologi. Selain itu, ada perkembangan pendidikan dan organisasi pemerintahan dengan gaya barat. Prestise golongan masyarakat pribumi lambat laun menjadi kuat. Kemudian terbentuklah golongan baru berdasar jenjang sosial baru. Yakni golongan intelektual pribumi atau keturunan. Golongan masyarakat tersebut umumnya menerima politik moderat. Dan mereka bersikap kooperatif terhadap pemerintah hindia-belanda.
• Nilai-nilai
Salah satu aspek dalam nilai-nilai adalah aspek normatif. Karena dapat menunjukkan keadaan yang di anggap berharga, yang menjadi tuntutan dan tujuan untuk memperoleh hidup yang lebih baik dibawah kekuasaan pemerintah kolonial. Aspek normatif berhubungan dengan sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang bersifat pribadi, yang di ekspresikan oleh susunan derajat kehidupan sesuai dengan masyarakat kolonial. Contohnya yaitu dalam hal bangunan rumahtinggal yang lebih bersifat pribadi, dengan ruang-ruang yang memiliki fungsi khusus.
• Kognisi sosial
Pada kebudayaan indis, aspek kognitif lebih sulit di artikan karena justru gaya indis berpangkal dari dua kebudayaan yang sangat jauh berbeda, yakni jawa dan belanda. Karena berhubungan erat dengan tingkat perasaan yang sangat sulit untuk dilukiskan dan di amati. Untuk memahaminya, perlu diketahui adanya suatu pengertian situasi atau fenomena kekuasaan kolonial dalam segala aspek dan proporsinya.
Sebagai contoh, misalnya dalam membangun rumah tempat tinggal dan susunan tata ruangnya. Setiap bagian rumah memiliki arti simbolik dan berhubungan erat dengan perilaku penghuninya. Pada suku jawa biasanya tidak ruang khusus untuk anggota tertentu, maka fungsi ruang tidak di pisahkan dengan jelas. Dalam konsep orang jawa, rumah merupakan mikrokosmos.
• Bahasa
1. Perkembangan bahasa
Sejak akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-20, bahasa melayu pasar mulai berbaur dengan bahasa belanda. Pembauran ini berasal dari bahasa komunikasi yang di gunakan oleh keluarga dalam lingkungan “INDISCHE LANDSHUIZEN”, yang selanjutnya digunakan oleh golongan indo-belanda. Proses ini menimbulkan bahasa pijin atau bahasa campuran. Secara etimologis, kata pijin berasal dari istilah bahasa inggeris “business” yang berarti “perdagangan”. Kemungkinan perkembangan kata pijin sebagai berikut: /business/>/pizin/>/pidgin/>/pijin/.
2. Relativitas linguistik
Perbedaan perkembangan bahasa setiap budaya bergantung pada sosial-budaya, geografi, ekonomi, geografis, serta psikologi.
3. Universal dalam bahasa
Di dunia, tidak ada bahasa pijin yang merupakan bahasa pijin standar. Meski demikian, bahasa pijin pada umumnya muncul pada suatu situasi keadaan kebahasaan darurat. Misalnya pada ekspansi kolonialisme dan imperialisme eropa mengakibatkan bangsa eropa dan penduduk asli memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi. Sehingga bangsa eropa menyederhanakan tatabahasa dan kosakata mereka dengan harapan dapat berkomunikasi dengan penduduk asli dengan lebih mudah. Pada perkembangan selanjutnya, bahasa pijin tersebut menjadi bahasa “kreol” atau bahasa ibu.
4. Bilingual
Bilingual merupakan penguasaan bahasa lain selain bahasa ibu. Misalnya seorang pribumi yang menguasai bahasa belanda.
Bab III
Gaya HidupMmasyarakat Indis
Pendekatan kultur-historis sangat membantu umtuk lebih memahami peradapan masyarakat indis, termasuk gaya hidupnya. Konsep indis di sini hanya terbatas pada ruang lingkup di daerah kebudayaan jawa, yaitu tempat khusus bertemunya kebudayaan eropa (belanda)dengan jawa. Rumah-rumah mewah (landhuizen) milik para pejabat tinggi VOC adalah tempat awal berkembangnya kebudayaan indis. Dari Batavia, kebudayaan indis tersebar luas dan berkembang di seluruh wilayah jajaran hindia belanda.
Kehidupan meawah dan boros akibat keberhasilan di bidang ekonomii disebabkan oleh adanya segolongan masyarakat indis di Batavia, khususnya mengacu pada kehidupan para petinggi di Weltevreden. Gaya hidup golongan masyarakat pendukung kebudayaan indis menunjukan perbedaan mencolok dengan kelompok masyarakat tradisional jawa. Kehidupan social dan ekonomi yang rata-rata lebih baik dibandingkan dengan kehidupan social masyarakat pribum pada umumnya, memungkinkan mereka memiliki rumah tinggal berukuran besar yang bagu di dalam kompleks yang wilayahnya khusus pula.
Sebagai golongan penguasa dan keturunan masyarakat yang mendukungdua akar kebudayaan yang berbeda, mereka berupaya untuk menunjukan kebesarannya yang berbeda pula dengan masyarakat kebanyakan, yaitu masyarakat pribumi. Kewibawaan, kekayaan dan kebesarannya ditampilkan agar tampak lebih mewah dan agung dibandingkan dengan kelompok-kelompok masyarakat lain. Hal demikian dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan kekuasaan mereka di Nusanrtara. Kehadiran balatentara Jeapang dalam perang Dunia II tahun 1942 menumbangkan lambang-lambang kebesaran kebudayaan indis dan mengubur kebudayaan dan gaya hidup boros serta mewah itu. Meskipun demikian, kebudayaan indis tidak seluruhnya lenyap. Dari pohon budaya indis yang besar dan menjangkau peradaban yang luas di Indonesia itu, masih ada tunas-tunas yang hidup dan tetap berlanjut dan berkembang pada masa Republik Indonesia setelah runtuhnya pendudukan jepang. Bahkan, di antara unsur-unsur universal budaya indis yang teatap menjadi unsure dominan sebagai kebudayaan nasional Indonesia, misalnya system pendidikan, system pemerintahan, perundangan-undangan dan dan sebagainya.
Berbagai berita tertulis berupa buah karya para musafir, rohaniwan, peneliti alam, pejabat pemerintah jajahan, termasuk berbagai buah karya sastera indis (indische belletries). Selain karya tulis, terdapat karya seniman berupa sketsa dan seni lukis yang memperkarya dan mengisi celah-celah kekurangan berita tertulis. Rekaman berita tentang gaya hidup masyarakat indis dari lapisan kalangan atas banyak didapatkan dari berita-berita tersebut, sebaliknya, berita tentang gaya hidup masyarakat indis dari kalangan bawah atau abdi VOC dan pemerintahan Hindia Belanda sangat sedikit. Demikian halnya dengan berita tentang peranan perempuan indis dari berbagai lapisan sangat sulit didapatkan. Data arsip dari gereja sedikit membantu, tetapi akta-akta gereja yang menyebutkan tentang perempuan juga tidak memuaskan atau tiak banyak member kontribusi.
Abdi atau penguasa VOC tersebut di atas dapat dibagi dalam empat golongan pokok yaitu :
a. Pegawai niaga, mulai dari jabatan opperkopman (pedagang kepala) sampai asisten (para pembantu atau juru tulis)
b. Personel militer dan maritime yang terdiri atas berbagai tigkat kepangkatan dan jumlahnya pun yang paling banyak.
c. Personel militer yang terdiri dari pendeta Calvinis (predikanen) yang cerdik pandai sampai petugas pengunjung orang sakit yang disebut zienkektrooster atau penghibur orang sakit
d. Kelompok terendah, yaitu terdiri dari para tukang dan para pengrajin, yang secara kolektif dikenal dengan ambahtheden.
BAB IV
Lingkungan Permukiman Masyarakat Eropa, Indis dan Pribumi
A. Sumber – sumber tentang Pola Lingkungan Permukiman
Pola permukiman, bentuk rumah tinggal tradisional dan bangunan rumah tinggi gaya Indis tercatat dalam berbagai sumber. Sumber yang paling banyak adalah berita tulis buah karya orang jawa, belanda (Eropa) serta orang asing lainnya. Selain itu, terdapat peninggalan bangunan yang hingga saat ini masih ada dan digunakan sebagai tempat tinggal atau keperluan lain. Sumber lain yang juga dapat digunakan sebagai sumber berita ialahhasil karya yang berupa lukisan, skets dan graver buah karya para musafir, peneliti alam, pejabat VOC dan dokumentasi pemerintah kolonial. Setelah dikenal pengguanaan alat pemotretan, hasil fotografi merupakan sumber berita penting yang dapat digunakan untuk melengkapi sumber – sumber tersebut.
1. Berita dari Karya Tulis
Berita tertulis tentang wilayah pemukiman yang kemudian berkembang menjadi kota, sudah lama dikenal sebelum ada abad ke -19. dalam disertasi FA. Soetjipto tentang kota – kota pantai disekitar Selat Madura terdapat informasi tentang sumber – sumber berita tertulis Pribumi, antara lain berupa babad, kidung maupun serat, baik yang maih berupa manuskrip maupun yang sudah dicetak dengan jumlah cukup banyak. Karya – karya tulis ini banyak ditulis didaerah pantai (pesisir) dan pedalaman Pulau Jawa.
Manuskrip tersebut antaralain Babad Negeri Semarang, Babad Tuban,Babad Gersik, Babad Blambangan, Babad Kitho Pasoeroean, Babad Lumajang dan Babad Banten. Yang berupa cerita perjalanan R.M. Poerwolelono. Kitab – kitab tersebut memberitakan dan menerangkan berbagai aspek kehidupan suku jawa,dan secara tidak langsung juga memberitakan tentang kota, rumah, adat, sejarah dan sebagainya.
Menggunakan sumber – sumber berupa babad, serat atau cerita perjalanan seperti tersebut di atas memerlukan ketelitian dan sikap kritis dalam memahaminya karena kitab – kitab tersebut memang tidak dimaksudkan sebagai karya sejarah, tetapi lebih bersifat karya sastra.
2. Sumber Tertulis dari Bangsa Eropa
Sumber tertulis tentang Pulau Jawa yang berupa cerita atau laporan perjalanan sudah ditulis pada abad ke-18 dan abad ke-19 cukup banyak, antara lain berupa Rapporten, Missiven, Memories van Overgave (naskah serah terima jabatan). Reis bechrijvingen (catatan perjalanan), Daaghregisters (catatan harian Kompeni di Batavia) dan Contracten (naskah – naskah perjanjian antara Kompeni dan kelapa – kelapa bangsa Pribumi).
Kebanyakan tulisan itu masih berupa manuskrip yang tersimpan di gedung arsip di Indonesia dan Belanda. Yang sudah diterbitkan antara lain Generale Missiven van Gouverneur Generaal en Raden aan Heeren XVII der Vereenigde Oost-Indische Compagnie, (S’Gravenhage, 3 jilid, 1960-1968); Daghregister Gehouden in’t Casteel Batavia van Passerrende daer ter Plaeste als Over Geheel Nederlandts-Indie, (31jilid, Batavia/Den Haag. 1888-1931); Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum (diterbitkan J.E. Heeres G.F.W. Stapel, Deb Haag, 1907-1938).
Manuskrip yang berupa berita tentang kota dan kehidupan masyarakatnya pada abad ke-18 dan abad ke-19 banyak ditulis dalam kisah perjalanan di Hindia Belanda, khususnya Jawa. Karya dari pengalamn pribadi itu sangat mengasyikan untuk dibaca untuk menambah wawasan gambaran hidup sezaman yang meliputi tujuh unsur pokok universal kebudayaan indis di Jawa.
3. Berita Visual
Berita visual berasal dari karya lukisan, sketsa, grafis dan potrer. Selain berita dari karya – karya tulis yang sudah disebutakan pada sub-bab sebelumnya, penggambaran kota, permukiman dan perumahan dapat juga diikut secara visual lewat lukisan para pelukis Eropa yang datang ke Indonesia. Lukisan yaitu suatu lukisan dengan teknik encreuk relief yang dipahatkan pada lempengan tembaga atau perunggu sangat populer. Dalam melukis, pelukis antara lain menggunakan cara penglihatan mata burung (vogel vlucht). Karya – karya itu dilukis oleh para pelukis yang mengikuti perjalanan, pelayaran atau ekspedisi. Karya mereka berupa lukisan kota – kota pantai, seperti Batavia, Jepara, Banten, Gersik dan sebagainya.
4. Karya berupa Fotografi
Karya berupa fotografi sangat banyak tersimpan di gedung KITLV Laiden dan berbagai museum Belanda. Menurut Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia di Pejaten (Jakarta), disebut oleh direkturnya, tersimpan tidak kurang dari 1.000.600 buah foto dari masa sebelum Perang Dunia II.
Sejak kehadiran kapal – kapal dagang Belanda pertama kedunia Timur, mereka sudah membawa serta para pelukis. Hasil lukisan mereka terutama digunakan untuk kelengkapan laporan kepada Heeren Zeventien di Belanda. Ada lukisan yang dimaksudkan sebagai kenang – kenangan atau sebagai hadiah keluarga. Ada pula yang dimaksud untuk diperjualbelikan. Objek lukisan ialah keadaan negeri – negeri yang dikunjungi, seperti kota – kota pantai, kehidupan masyarakat sehari – hari, adat-istiadat, rumah tempat tinggal dan sebagainya. Banyak di antara lukisan yang dihasilkan menunjukan kekayaan, kebesaran dan kekuasaanpara raja di berbagai negara yang disinggahi kapal – kapal VOC tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh para pelukis dan awak kapal Inggris dan Prancis yang mengunjungi Hindustan dan Persia. Pada umumnya para pelukis tersebut selalu diperintahkan mengikuti pelayaran untuk kepentingan dagang VOC dengan tujuan mencari pengalaman dan petualangan (avounturier). Tidak jarang para awak kapal sendiri yang melukis sekedar untuk mengisi waktu, sebagai selingan kejenuhankarena lam tinggal di atas geladak kapal.
Baru pada abad ke-19 diirim para pelukis yang khusus melukissegala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian. Misalnya, Junghuhn melukis berbagai jenis tumbuh – tumbuhan, Rumphuius melukis berbagai jenis binatang darat dan laut, dan Bemenllen melukis tentang alam. Pada masa kemudian, lukisan tersebut juga sangat berharga sebagai alat untuk mengetahui dan memberi gambaran tentang keadaan kota – kota pantai, penduduk dan para penguasanya, seni bangunan serta adat-istiadat.
B. Mengamati Seni Bangunan Rumah dari Hasil Karya Seni Lukis, Pahat, Foto dan Karya Sastera
Mengenal kembali sesuatu hasil seni bangunan rumah dari silam yang umumnya sudah rusak merupakan hal yang menarik. Menarik karena materialnya yang lapuk dimakan zaman, diubah bentuknya atau dirombak karena tidak sesuai lagi dengan selera zaman, kecuali dari banguan aslinya atau reruntuhan yang ada, dapat pula melalui benda – benda lain. Adapun benda – benda lain berupa karya lukis, karya sastera, foto gravir. Sketsa, relief atau bend lain seperti maket yang dibuat oleh museum atau lembaga – lembaga penelitian.sebagai contoh, tentang bentuk bangunan rumah Jawa zaman Majapahit atau zaman Jawa Hindu, orang dapat melihatnya dari gambar relief candi atau hasil seni sastera sebagai Nagara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca.
Melalui karya seni lukis, foto gravir, relief dan karya sastera, kini orang dapat mengetahui hasil seni bangunan rumah dan perabotan milik bangsa Belanda dan anak keturunannya di Indonesia. Dengan demikian orang tidak harus selalu mencari banguan rumah aslinya, tetapi dapat pula melihatnya dari hasil – hasil karya seni lukis yang dilukis pada waktu bangunannya dalam keadaan utuh. Dalam seni lukis abad ke-17 sampai abad ke-19. sedikit sekali kemingkinan para pelukis memalsukan objek yang dilukis. Pendapat ini didasarkan atas beberapa alasan.
Pertama, para pelukis naturalis yang hidup pada abad ke-17 sampai abad ke-19 adalah pengikut yang terpengaruh oleh gaya terperiode Renaisans dan Barok. Pada masa itu “naturalisme” dan “akademisme” hidup dengan subur dikalangan seniman lukis Eropa. Dengan demikian, di dalam lukisan – lukisan seniman Belanda pada zaman ini besar sekali kemungkinannya bahwa apa yang dilukis benar – benar ada dan tepat sesuai dengan bangunan serta keadaan pada waktu itu. Sehingga dengan demikian, hasil karya lukis dari zaman itu bernilai setara dengan hasil pemotretan dengan foto kamera pada abad ke-20.
Kedua, beberapa penulisan dan pelukis lazim menggambarkan bangunan rumah serta pemandangan alam sekitarnya, misalnya rumah milik Groeneveld di Tanjung Timur (dilukiskan keindahanyan oleh penulis Johannes Oliver dan Roorda van Eysinga).
Ketiga, terdapat adanya suatu kebiasaan para pembesar VOC dan Hindia Belanda, terutama para gubernur jendral di Batavia dan para bangsawan kaya, meminta seniman melukis rumah tempat tinggaldan keluarga mereka sebagai kebanggan atau kenang – kenangan keluarga. Hal ini sama dengan orang dari abad sekarang yang memotret rumah dan keluarga untuk dipasang pada dinding rumah atau dikirim pada sanak keluarganya dengan maksud yang sama, yaitu sebagai kenangan atau pamer.
C. Pola Permukiman Masyarakat Indis di Kota, Provinsi dan Kabupaten di Jawa
Pengertian kota dan macam – macam jenis kota sudah ditulis oleh beberapa sarjana. Yang menarik ialah karya tulis Peter J.m. Nas yang membahas tentang kota yang dibedakanyan dalam empat macam yaitu;
(1) kota awal Indonesia;
(2) kota Indis;
(3) kota kolonial; dan
(4) kota modern.
Kota awal Indonesia disebut memiliki struktur yang jelas mencerminkan tatanan kosmologis dengan pola – pola sosial budaya yang dibedakan dalam dua tipe, yaitu; (a) kota – kota pedalaman dengan ciri –ciri tradisional-religius, dan (b) kota – kota pantai yang berdasarkan pada kegiatan perdagangan, misalnya kota Indis Semarang.
Budaya Indis yang berkembang subur pada abad ke-18 sampai abad ke-19, dan berpusat diwilayah – wilayah tanah partikelir (particuliere-landerijen) dan di lingkungan Indische landhuizen. Pada permulaan abad ke-20 kebudayaan ini bergheser ke arah urban life seiring dengan hilangnya pusat – pusat kehidupan tersebut.
Ketika landhuizen banyak dijual kepada orang – orang Cina dan tanah partikelir (particuliere-landerjen) banyak lahan berubah menjadi perkebunan-perkebunan di sekitar Batavia. Dan ketika pemilikan budak tidak lagi dibenarkan oleh hukum, ciri Indis berkembang memancar dalam kehidupan kota sebagai bagian dari urban culture kota kolonial.
Ada tiga ciri yang harus diperhatikan untuk dapat memahami struktur ruang lingkup sosial kota kolonial, yaitu budaya, teknologi dan struktur kekuasaan kolonial. Kota – kota besar seperti Batavia, Semarang, Surabaya dan Bandung harus ditelaah dari keterkaitan erat ketiga dimensi tersebut.
Pengaruh Belanda dan mazhab – mazhab Eropa berhasil memperkuat dan memberi alat untuk menanggulangi kekurangan – kekurangan dalam cara membangun kota atau rumah, dan membantu dalam hal memberikan petunjuk tentang konstruksi bangunan, organisasi, dan metode dalam membangun rumah pada masyarakat Jawa. Dalam membangun rumah pembesar atau penguasa kolonial dan para intelektual Jawa menyesuaikan diri dengan keberadaanm bangunan Eropa. Penguasa Belanda memberikan saran – saran dalam penggunaan teknik konstruksi bangunan, kebersiahan (higienie), tata letak dan garis sepadan (rooilijin) dan sebagainya.
Unsur utama kehidupan seni bangunan Jawa adalah adanya keharmonisan dengan alam sekeliling. Seiring perjalanan waktu terdapat berbagai pengaruh budaya asing, ternasuk bahan material yang digunakan. Diberbagai daerah di Jawa masih banyak ditemukan bentuk gaya asli, bahkan terdapat suatu kesatuan dalam gaya bangunan, seperti contoh berikut.
(1) Yang paling sederhana adalah bangunan cungkup kuburan Jawa, yang selalu terletak ditempat terpencil (kiwa). Khusus di sekitar lingkungannya terdapat tanaman khas, yaitu pohon kamboja, beringin,randu alas, atau pohon – pohon lain yang memiliki cabang – cabang dan daun yang rimbun.
(2) Tradisi bangunan rumah tempat tinggal Jawa, termasuk yang berada didalam kota, mencoba menyesuaikan dengan alam sekeliling sebagai latarbelakang. Dengan demikian, bangunan rumah yang didirikanmemberi kesan terbaik, sesuai dengan alam lingkunagnnya. Perkampungan penduduk pribumi terpisah dari kompleks bangunan Eropa, Walaupun kampung itu terletakdalam lingkungan kota Jawa yang sama.Harmoni dengan alam kejiwaan serta daerah yang bergunung – gunung dan ditumbuhi pepohonan yang rindang sangat terasa.
(3) Mereka tahu dan mengerti denagan adanya tempat – tempat keramat atau yang sangat ideal bagi hidup mereka di desa, seperti pancuran – pancuran air dan sumber mata air. Semuanya ini merupakan monumen alami yang terdapat di tempat – tempat sekeliling mereka, kadang – kadang dikeramatkan. Hal ini terkadang tidak dipahami oleh orang asing.
(4) Gambaran monumental sesuai dengan gambaran ide keindahan sebuah lingkunagn kota lama di Jawa dapat diamati di kota Yogyakarta. Kompleks Keraton Yogyakarta, termasuk perkampungan sekitarnya, merupakan tempat tinggal sultan dan para bangsawan serta hambanya. Bangunan itu dibangun pada 1778. Alun – alun utara dan selatan yang juga terletak di dalam kompleks keraton dikelilingi oleh benteng berparit lebar.
Maclanie Pont berpendapat bahwa pada awal abad ke-20 bangunan kota – kota di Pulau Jawa sudah banyak menerima pengaruh seni bangunan Belanda. Permukiman dan tempat tinggal penduduk di Kepulauan Hindia Belanda terbagi sesuai dengan golongan dan kebangsaannya. Ada empat golongan kebangsaan yaitu:
1. Anak negeri atau bangsa Pribumi,
2. orang – orang yang disamakan dengan anak negeri (sesuai dengan Sjart Pemerintahan Hindia Belanda pasal 109),
3. orang Eropa, dan
4. orang yang disamakan dengan bangsa Eropa (gelijk gesteld).
D. Upaya Mencukupi Kebutuhan Perumahan Kota
Perkembangan dan perluasan kota-kota besar dijawa dan diberbagai tempat menimbulkan kekurangan rumah tempat tinggal bagi penduduk kota.keberhasilan mereka mengatasi kesulitan perumahan dan mengatur pendirian rumah-rumah baru sangat memudahkan mereka mengatur tata ruang kota.rumah orang eropa yang berukuran besar sudah mendapat prioritas dengan penyediaan lahan yang ditentukan oleh undang-undang.
Pada 1930 perkarangan dan ukuran rumah dibuat sesuai dengan keperluan dan dengan pertimbangan anatara lain : makin mahal nya harga tanah dan material.
Kalangan masyarakat pengusaha ada yang nafsu membuat rumah-rumah berukuran kecil atau sedang khususnya untuk orang pribumi dengan sewa paling rendah.
Sesak dan padatnya penduduk kota bandung dapat ditunjukan pada 1924 penghuni sebah rumah pribumi dapat ditunjukan dengan angka perbandingan 5,8:1 hal ini sangat berpengaruh pada penghidupan sehar-hari penghuni kota.rumah berukuran kecil itu di usahakan dijual dengan harga semurah-murahnya agar lebih hemat lagi .kesulitan yang timbul adalah pada pembentukan didinding dari beton dengan sponning pada tiangnya.psejak 1932 cara ini disempurnakan lagi antara lain dengan membuat bagian rumah yang lain seperti jendela,pintu dan lain berukuran sama.
Rumah-rumah in pada 1932 tidak lagi dikerjakan oleh kotapraja(gemeente) karena pengurus gemeente tidaj mau menanggung risiko pada tahun-tahun yang sulit itu.mereka berupaya mengetengahkan pentingnya arsitektur tradisional jawa dalm membangun perumahan dan kota.
E. Penggunaan Unsur Seni Tradisional dalam Rumah Gaya Indis
pada 1890 suatu zaman yang hingga kini masih ada memuat detail-detail penuh ekspresi dan mengagumkan yang sangat berharga untuk bangunan-bangunan modern,ia mengambil contoh bangunan sederhana seperti rumah jaga monyet yang tidak menggunakan plint batu,tetapi serdadu penjaga terlindung dari hujan dan panas.
Reflector menyetujui dan mengharapkan hendaknya para ahli dihindia belanda terpanggil dan sadar untuk bangun dan mengambil sumber-sumber insiprasi dari bumi hindia belanda yang tidak habis habisnya.pembangunan candi merupakan akar kehidupan seni bangunan dan gaya sendiri,dengan citra,cara dan system sendiri pula.
Reflector menganjurkan pula hendaknya jangan bersikap memiliki sentiment dan menolak menggunakan unsure-unsur budaya bangsa pribumi
Kelompok pertama mengutamakn pemidaghan dari negeri ibu(belanda0,yang menghendaki seni bangunan (nasional belanda) diberlakukan didaereah koloni,khususnya jawa.
Kelompok kedua karena merasa dipisahkan oleh kenyataan adanya pertimbangan politik,
Kedua pandangan kelompok tersebut berlage menutup pidatonya bahwa pada prinsip nya kedua kelompok itu benar.namun yang sebenarnya penting diperhatikan ialah tentang nilai seni dan peralihan perubahan seni jawa.
BAB V
Ragam Hias Rumah Tinggal
A. Tentang Hiasan Rumah Tinggal
Aritektur rumah tinggal merupakan suatu bentuk kebudayaan. Arsitektur sendiri dianggap sebagai perpaduan antara karya seni dan pengetahuan tentang bangunan. Dengan demikian, arsitektur juga membicarakan berbagai aspek tentang keindahan dan konstruksi bangunan. Marcus Vitruvius Pollio adalah orang yang pertama kali mencetuskan konsep ini, yaitu pada abad pertama sebelum Masehi. Pengetahuan ini ia peroleh dari nenek moyangnya, yaitu bangsa Romawi. Karyanya yang berjudul De Architectura Libri Dacem diduga telah mengilhami banyak orang.
Menurut Marcus Vitruvius Pallio, 3 unsur yang merupakan fakor dasar dalam arsitektur yaitu, a. kenyamanan (convenience); b. kekuatan atau kekukuhan (strength); c. keindahan (beauty). Ketiga faktor tersebut saling berhubungan dan akan selalu hadir dalam struktur bangunan yang serasi. Seorang arsitek yang arif tidak akan mengabaikan ketiga faktor tersebut. Ketiga faktor tersebut merupakan dasar penciptaan arsitektur yang memiliki estetika. Dari ketiga faktor ini, wajarlah kiranya untuk menyebut bahwa arsitektur adalah suatu karya seni. Sebagai karya seni, arsitektur diciptakan melalui proses yang sangat sulit dan rumit.
B. Bentuk Atap dan Hiasan Kemuncak
Mengenai pembuatan bangunan rumah Jawa tradisional dan hiasannya dari masa awal abad ke-20, terdapat suatu keganjilan apabila dibandingkan dengan bagaimana masyarakat yang tinggal di pulau sekitarnya, yaitu Bali dan Sumatera terutama dalam hal mendirikan rumah. Ada kesan yang mendalam bahwa dalam mendirikan rumah dan ragam hiasannya, orang Jawa kian jarang menghias bangunan rumahnya apabila dibandingkan dengan orang Sumatera.
C. Hiasan Kemuncak Tadhah Angin dan Sisi Depan Rumah
Di Indonesia, khususnya Jawa, hiasan di bagian atap rumah kurang mendapat perhatian, kecuali pada bangunan-bangunan peribadatan (masjid, gereja, pura, dan candi). Pada bangunan rumah Eropa, hiasan kemuncak mendapa perhatian dan mempunyai arti tersendiri, baik dari sudut keindahan, status sosial maupun kepercayaan.
Sejarah lambang-lambang yang dipahatkan pada papan lis tadhah angin (tympanon) dapat dibedakan menjadi 3 babakan waktu, yaitu :
1. Lambang dari masa Pra-Kristen (zaman kekafiran Jerman), antara lain diwujudkan dengan gambar pohon hayat, kepala kuda atau roda matahari, yang kemudian pada masa Kristen ditambah dengan lambang salib;
2. Masa Kristen, berupa lambang gambar salib, gambar hati (hart), jangkar (angker), yaitu sebagai lambang kepercayaan, harapan dan kejujuran atau kesetian; dan
3. Khusus lambang-lambang dari agama Roma Khatolik, yaitu berupa miskelk dan hostie.
1. Macam-macam Hiasan Kemuncak dan Atap Rumah
a. Penunjuk Arah Tiupan Angin (Windwijzer)
Penunjuk Arah Tiupan Angin (Windwijzer) disebut juga windvaan, dalam bahasa Perancis disebut girovettes dan apabila berputar-putar disebut wire wire.
b. Hiasan Puncak Atap (Nok Acroterie) dan Cerobong Asap Semu
Bentuk hiasan puncak atap (nok acroterie) dulu menghias atap rumah petani. Hiasan ini terbuat dari daun alang-alang (stroo) sebagai prototype, kemudian dalam rumah gaya Indis dibentuk dengan bahan dari semen. Atap daun alang-alang (rumbia) digantikan dengan atap genteng. Dirumah Gubernur Jendral Reinier de Klreck diwujudkan dengan pahatan batu berukir bentuk bunga. Demikian halnya cerobong asap yang menjulang tinggi di Negara Belanda, digantikan menjadi “cerobong asap semu” yang berukuran pendek, atau diwujudkan dengan hiasan batu berukir.
c. Hiasan Kemuncak Tampak-Depan (Geveltoppen)
Bentuk hiasan pada depan rumah disebut voorschot. Seringkali voorschot itu dihias dengan papan kayu yang dipasang vertical, berhiasan, yang digunakan sampai dengan abad ke-19. Ragam hias yang dipahatkan seringkali memiliki arti simbolik berupa huruf-huruf yang distilisasi sehingga merupakan motif ragam hiasan (runenschrift).
1. Lambang Manrune, mengandung arti simbolik kesuburan. Selain bentuk huruf M, ada juga bentuk tulip atau leli.
2. Yang lebih terkenal yaitu, hiasan berupa hiasan oelebord atau uilebord yang terdapat di rumah para petani Friesland (di kota Drente disebut oelenbret) berupa papan kayu berukir melukiskan dua ekor angsa bertolak belakang yang bersandarkan pada makelaar. Arti makelar berbentuk angsa masih sering diperdebatkan orang. Pada rumah gaya Indis, gambar bentuk dua angsa bertolak belakang ada yang digantikan hayat (kalpataru, kalpawreksa).
3. Hiasan berupa makelaar, yaitu papan kayu berukir, panjang sekitar dua meter ditempel secara vertikal ada yang diwujudkan seperti pohon palem, orang berdiri dengan tangan mengadah dan sebagainya.
d. Ragam Hias Pasir dari Material Logam
Selain ragam hias pada puncak atau di tadhah angina (tympanon) bangunan rumah, ada ragam hias lain yang melengkapi bangunan rumah dari bahan besi, misalnya untuk : a. pagar serambi (stoep); b. kerbil, yaitu penyangga atap emper pada bagian depan dan belakang rumah. Kerbil berhias banyak digunakan dirumah pejabat, bupati, residen atau gedung asisten residen, contohnya seperti yang terpahat di Gedung Agung Yogyakarta sekarang; c. penunjuk arah mata angin; d. lampu halaman atau lampu dinding sampai sekarang masih banyak digunakan, bahkan kini ditiru untuk lampu penerangan jalan disepanjang kota, seperti di Yogyakarta, Surakarta, dan kota-kota kabupaten atau kotapraja; e. kursi kebun dari bahan logam besi yng dulu hanya menghias rumh orang Eropa juga banyak ditiru.
2. Ragam Hias pada Tubuh Bangunan (Topgevel)
Selain terdapat di kemuncak (topgevel) dan tadhah angina (tympanon), ragam hias juga terdapat dibagian tubuh bangunan, misalnya pada lubang-lubang angina (bovenlicht) yang terletak di atas pintu atau jendela. Hiasan yang berupa ukir krawangan (a’jour relief) ini lazimnya terbuat dari kayu, tetapi pada rumah-rumah mewah yang dihuni pembesar pemerintah kadang terbuat dari logam besi.
Jumat, 01 April 2011
Teori Kepribadian Sehat
Perbedaan antara aliran psikoanalisa, behavioristik, dan humanistik :
1. Aliran Psikoanalisa
Teori kepribadian dengan pendekatan psikodinamika sangat dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939), Bapak Psikoanalisa yang sangat terkenal. Aliran ini melihat dari sisi negative individu, masa lalu, analisis mimpi (jalan istimewa menuju ketidaksadaran), dan juga alam bawah sadar, yang tersusun dari 3 sistem pokok yaitu : id, ego, dan superego. Freud juga membagi aktivitas mental individu dalam beberapa tingkatan berdasarkan sejauh mana individu menyadari gejala-gejala psikis yang timbul, yaitu :
a). Tingkat sadar atau kesadaran (conscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan lain-lain.
b). Tingkat prasadar (preconscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari hanya apabila individu memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan yang telah dipelajari, dan lain-lain.
c). Tingkat tidak disadari (unconscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu. Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral, pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional, dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan lain-lain.
2. Aliran Behavioristik
Teori kepribadian behaviristik bertolak dari dan menekankan pengaruh lingkungan atau keadaan situasional terhadap perilaku. Tokoh-tokohnya adalah Rotter, Dollard, Miller, dan Bandura. Para ahli tarsebut berpendapat bahwa perilaku merupakan hasil interaksi yang terus menerus antara variable-variabel pribadi dengan lingkungan. Dengan demikian individu dan situasi saling mempengaruhi.
Teori belajar yang dianut oleh Dollard dan Miller menekankan pada konsep kebiasaan. Kebiasaan adalah pertautan atau asosiasi antara suatu stimulus (isyarat) dan suatu respons. Asosiasi-asosiasi atau kebiasaan-kebiasaan yang dipelajari tidah hanya terbentik dari stimulus-stimulus eksternal dan respon-respon terbuka, tetapi juga antara stimulus-stimulus dan respon-respon internal.
3. Aliran Humanistik
Aliran humanistik memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang membedakan menusia dengan binatang, yaitu kebebasan untuk memilih (freedom for choice) dan kemampuan untuk mengarahkan pekembangannya sendiri (self-direction). Banyak ahli menyebut teori tersebut sebagai “self-theorities” karena teori-teori tersebut membahas pengalaman-pengalaman batin, pribadi, yang berpengaruh terhadap proses pendewasaan diri seseorang, dan pertumbuhan itu diarahkan pada aktualisasi diri. Tokoh-tokoh utama pendekatan ini adalah Carl Rogers dan Abraham Maslow.
1. Aliran Psikoanalisa
Teori kepribadian dengan pendekatan psikodinamika sangat dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939), Bapak Psikoanalisa yang sangat terkenal. Aliran ini melihat dari sisi negative individu, masa lalu, analisis mimpi (jalan istimewa menuju ketidaksadaran), dan juga alam bawah sadar, yang tersusun dari 3 sistem pokok yaitu : id, ego, dan superego. Freud juga membagi aktivitas mental individu dalam beberapa tingkatan berdasarkan sejauh mana individu menyadari gejala-gejala psikis yang timbul, yaitu :
a). Tingkat sadar atau kesadaran (conscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan lain-lain.
b). Tingkat prasadar (preconscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari hanya apabila individu memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan yang telah dipelajari, dan lain-lain.
c). Tingkat tidak disadari (unconscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu. Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral, pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional, dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan lain-lain.
2. Aliran Behavioristik
Teori kepribadian behaviristik bertolak dari dan menekankan pengaruh lingkungan atau keadaan situasional terhadap perilaku. Tokoh-tokohnya adalah Rotter, Dollard, Miller, dan Bandura. Para ahli tarsebut berpendapat bahwa perilaku merupakan hasil interaksi yang terus menerus antara variable-variabel pribadi dengan lingkungan. Dengan demikian individu dan situasi saling mempengaruhi.
Teori belajar yang dianut oleh Dollard dan Miller menekankan pada konsep kebiasaan. Kebiasaan adalah pertautan atau asosiasi antara suatu stimulus (isyarat) dan suatu respons. Asosiasi-asosiasi atau kebiasaan-kebiasaan yang dipelajari tidah hanya terbentik dari stimulus-stimulus eksternal dan respon-respon terbuka, tetapi juga antara stimulus-stimulus dan respon-respon internal.
3. Aliran Humanistik
Aliran humanistik memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang membedakan menusia dengan binatang, yaitu kebebasan untuk memilih (freedom for choice) dan kemampuan untuk mengarahkan pekembangannya sendiri (self-direction). Banyak ahli menyebut teori tersebut sebagai “self-theorities” karena teori-teori tersebut membahas pengalaman-pengalaman batin, pribadi, yang berpengaruh terhadap proses pendewasaan diri seseorang, dan pertumbuhan itu diarahkan pada aktualisasi diri. Tokoh-tokoh utama pendekatan ini adalah Carl Rogers dan Abraham Maslow.
Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini.
masa pra ilmiah: Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.
masa ilmiah: dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.
Tokoh yang banyak memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Sering ia didera dengan pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers bisa sembuh.
Di dalam bukunya ”A Mind That Found Itself”, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:
a. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
b. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
c. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
d. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.
William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar, sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.
masa pra ilmiah: Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.
masa ilmiah: dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.
Tokoh yang banyak memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Sering ia didera dengan pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers bisa sembuh.
Di dalam bukunya ”A Mind That Found Itself”, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:
a. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
b. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
c. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
d. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.
William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar, sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.
Definisi Kesehatan Mental
Keserasian atau kesesuaian antara seluruh aspek psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal agar individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan tuntutan-tuntutan atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok maupun masyarakat luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara sosial.
Langganan:
Postingan (Atom)